Menyisir kota Amuntai di Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan, menyisakan pandangan holistik akan peninggalan sejarah peradaban besar. Membayangkan bagaimana suku dayak telah membangun pagar kemanusiaannya bagi hamparan bukit Meratus pada 242 sebelum masehi. Bersamaan dengan hegemoni kebangkitan Dinasti Maurya di India, Dinasti Ch’in dan Dinasti Han di TiongKok, ekspansi Raja Iskandar Agung dari Makedonia ke Eropa, serta kebangkitan Kekaisaran Romawi di Roma, Italia.
Menguak hamparan Alai sebagai ikonik meratus dengan karakternya membangun perlawanan dan pemberontakan. Urang Alai sebagai etnis tertua di pulau Kalimantan, adalah lambang hadirnya geopolitik ditengah hutan belantara itu. Urang Alai adalah generasi ketiga dari Raja Andung Prasap, raja pertama kerajaan Nan Sarunai. Sementara narasi peradaban itu terpampang jelas di Candi Agung, Candi Laras, dan Prasasti Batung Batulis. Prasasti yang menceritakan tentang hikayat perjalanan pelaut handal dari bumi nuswantara.
Karakter perlawanan yang kuat itu berawal dari tekanan pendatang suku melayu dari Sumatra Selatan ke Kalimantan Selatan 520 Masehi silam. Kemudian selama 924 tahun kerajaan Tanjungpuri berdiri, menyisakan ketegangan geopolitik strategis antara melayu tua yang lebih dikenal sebagai dayak meratus oleh melayu muda dari sumatera yang bertransformasi menjadi suku banjar. Keduanya adalah entitas pelaut hebat yang hilang oleh rangkaian gunung berapi kecil yang telah mengubah lautan mereka menjadi daratan seribu sungai dan berpusat disebuah hamparan bernama amuntai.
Kota Amuntai sendiri yang merupakan pusat administrasi kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan 80% adalah rawa. Dan diyakini oleh para ahli adalah wilayah laut yang mengalami sedimentasi akibat Gerakan tektonik aktif disekeliling penggungan meratus. Konsekwensi logis yang dibuktikan secara ilmiah bahwa cekungan sedimentasi terbesar didunia ini berpotensi menjadi penghasil batubara dan hidrokarbon yang dikelilingi oleh batuan gunung api dan batuan ultrabasa penghasil mineral ekonomis seperti emas, nikel, besi dan mineral lainnya.
Bukti bahwa nenek moyang orang dayak meratus muara sungai yang dulunya tinggal di tepi laut adalah pelaut Tangguh adalah upacara etnis dayak meratus seperti perahu malayang (perahu terapung-apung), tihang layar (tiang layar), dan balai bajalan (balai berpindah-pindah). Begitu juga dengan istilah yang berkonotasi pada laut seperti huma sebagai pulau yaitu laut tempat berlayar dan laut tempat memohon. Kegiatan menanam padi sebagai kegiatan mengantarkan padi tulak balayar atau pergi berlayar. Kegiatan balian batandik atau balian menari dalam upacara ma’anyanggar Banua, yaitu sebuah upacara melindungi kampung dari marabahaya sebelum pergi ke laut.
Bukti lainnya adalah penelitian batu-batu gamping di bukit Langara pegunungan Meratus ternyata terbentuk dari fosil binatang laut yang terbentuk selama 180 juta tahun. Batuan yang terbentuk di laut ini adalah hasil pengendapan hewan laut jenis orbitulina. Batu ini sudah terbentuk sejak lempeng benua Australia yang bergerak dan menumbuk lempeng Sunda Land yang sekarang berada di lingkungan bersama dengan ofiolit Meratus.
Susur sungai yang dilakukan dari wilayah rawa amuntai sampai ke wilayah Kalimantan selatan, juga akan menceritakan sejarah hamparan laut diwilayah tersebut. Mengingat tanaman yang tumbuh disekitaran jalur susur rawa dihamparan cekungan amuntai kalimanten selatan adalah golongan tanaman purba yang habitatnya memang ada dilaut. Bagaimana nasib pagar hidup pegunungan Meratus Kalimantan yang notabene adalah Pelaut Nusantara yang hilang dari Sejarah kita, mari cari tau dan berkontribusi.






