Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Nuswantara adalah ruang geopolitik yang hari ini dikenal dengan nama nusantara. Diperkenalkan oleh para pelaut tangguh dengan keahlian navigasi yang kapal yang hebat sejak dahulu kala. Pandangan global yang selama ini telah meremehkan manuskrip sejarah yang seakan menghilang khazanah kesejarahan nuswantara ini akan segera terjawab dengan cikal bakal munculnya peradaban baru dari timur. Kesombongan feodalisme akademik dunia yang telah menenggelamkan jejak kejayaan dan keluhuran peradaban nuswantara ini, adalah sebuah kejahatan yang akan segera mereka bayar.
Nuswantara yang dikenal dengan bangsa melayu nusantara ini telah mengkonsumsi beras sejak 9000 tahun yang lalu, sementara bangsa Cina pada masa itu masih mengkonsumsi talas dan umbi-umbian dan baru mengkonsumsi beras 3000 tahun kemudian dan 2000 tahun kemudian disusul oleh bangsa India. Penelitian ilmiah dunia oleh Nothofer via Collins di 2005, Reid di 2008 dan Hoogervorst di 2013, menyatakan bangsa melayu purba ini telah berusia dua juta tahun dengan ciri-ciri ekologis rawa-rawa, tanah basah, delta dan pantai. Dan terbukti memiliki teknologi pelayaran yang dahsyat yang bahkan mengalahkan bangsa Cina dan India sekalipun.
Melalui sebutan `pengelana dari timur, hantu dari timur, pengembara laut, Dewa Ra dari timur, dan setan dari timur` mereka telah mendunia. Diantaranya adalah Suku Laut Dayak Iban di Kalimantan dan Suku Laut Bajau di Sulawesi adalah salah satu dari sekian armada laut purba yang tanpa keahlian navigasi yang baik dan tanpa didukung oleh tehnologi pembuatan kapal sangat mustahil bangsa Nusantara akan mampu menjelajahi dan melintasi antar benua. Panggilan hantu laut adalah bentuk penghormatan tinggi kepada pelaut Nuswantara, yang saat ini menjadi kebanggaan TNI karena memiliki pasukan dan nilai sejarah yang hebat seperti SEAL di Amerika.
Namun yang lebih hebat dari ruang geopolitik strategik semesta nuswantara saat itu adalah pemaknaan mereka sebagai manusia yang dalam tatanan ekosistem yang seimbang ini adalah penentu dan titik tengah dari ruang semestanya yang rumit. Hal ini tergambarkan dengan jelas dalam keseharian kita sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antar sesama manusia dan alam disekitar kita. Namun tradisi politik, hukum, dan ekonomi kita dari masa ke masa mengajarkan betapa manusialah yang menjadi penyebab rusaknya tatanan keseimbangan itu. Jadi teori tentang manusia, alam dan kemanusiaan telah diabadikan lebih dahulu oleh rangkaian naskah tutur kerajaan dan kesultanan yang terhampar luas di asia tenggara ini.
Jawaban dari teori ini dikuatkan oleh eksperimen kerajaan eropa di abad ketiga belas, Raja Frederick II dari Sisilia mencoba melakukan riset tentang apa sebenarnya “bahasa alami” manusia. Dia memerintahkan beberapa anak dari kerajaannya dan membesarkan mereka dalam isolasi total selama bertahun-tahun. Setiap anak diberi kamarnya sendiri dan semua kebutuhan yang diperlukan untuk bertahan hidup, seperti makanan, pakaian, dan semua kebutuhan lainnya. Namun, tidak ada yang diizinkan berkomunikasi dengan mereka.
Penantian raja yang berspekulasi tentang bahasa apa yang nantinya akan digunakan oleh anak-anak itu, gagal total dan sia-sia karena semua anak meninggal karena stres atau dwarfisme psikososial. Inilah fenomena kehilangan emosi ekstrem yang menyebabkan gangguan endokrinologis yang merusak perkembangan jiwa dan akhirnya menyebabkan kematian. Bukti bahwa kita membutuhkan kekuatan sosial yang kuat untuk membuat bangsa yang kita junjung ini menjadi kuat.
Postulat ini menguatkan nilai apabila kita bersama kita akan menjadi kuat, dan akan mulai menemui kehancurannya saat kita tercerai berai. Peradaban besar ini sangat mungkin kembali dalam percaturan geopolitik dunia, karena dunia ini pada dasarnya sudah sangat tua. Dan akan menemui kematangannya dalam semesta, tentunya dengan syarat peradaban kemanusiaan yang menjadikan manusia adil dalam kekuasaannya terhadap alam. Sebaliknya akan menjadi pusaran kematiannya saat mengagungkan ketamakan dengan pergumulan raksasa kapital didalamnya.
Tidak akan ada visi peradaban dalam ketidakadilan. Karena semesta itu adalah cahaya kehidupan bagi manusia dan alam yang melingkupinya. Maka mulailah berdoa pada sang Maha yang mengendalikan alam demi semesta yang akan menjawab seperti apa akhir dari peradaban hidup kita. Bagai keindahan tahta yang menyimpan jutaan nista sebelum akhirnya sirna ditelan masa. Semuanya hanya akan menjadi nestapa dalam penderitaan, saat tahta itu hanya untuk sorak-sorai bagai pekik iblis dalam kubangan neraka.
Nuswantara kita di tutur dalam peradaban perang yang mungkin akan berganti wajah kemuliaan semesta, atau sebaliknya. Tuturnya : … Pedang Yudhistira Gada Bima … Panah Arjuna … Tombak Nakula Sadewa … Penaka sayatan jantung hati Merintih, Mengerang, Remuk redam … Mengiris perih sukma … Jerit-jerit pesakitan hilanglah nyawa Kurusetra padang kematian para Kurawa … Tajuk mahkota tiada … Sumanasantakanta ya tikamegata-kena ri sapa ni nghulun … Ketidakberdayaan Ketidakadilan … Pun kehilangan … Yakni sungkawa mengatasnamakan kebenaran …






