Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Melalui Bappenas Visi Pembangunan yang dicanangkan adalah dengan menjadikan Indonesia bergerak menuju bangsa yang mandiri, maju, adil dan Makmur. Sebuah cita-cita yang tentunya sudah dicanangkan bahkan oleh pemimpin bangsa ini dimasa kemerdekaan. Tentunya dengan pembahasaan yang berbeda, menyesuaikan dengan siapa presiden mendiskusikan rancangan strategis negara ini. Karena dibalik kebijakan pemimpin besar akan selalu ada arahan cerdas dari sosok presiden atau wakil presiden periode lalu seperti pak JK yang mungkin tidak lagi memiliki kewenangan, namun bisa membaca secara lebih dalam luas.
Kepemimpinan presiden terakhir pak Jokowi yang sudah memasuki periode yang kedua menjawab rancangan itu dengan Sasaran Pokok Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang dibuat secara bertahap melalui RPJMN lima tahunan. Dimana sasaran akhirnya adalah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing.
Dengan prediksi bonus demografi di 2025 nanti, bangsa ini seharusnya sudah berjalan kokoh dan lincah untuk menjawab tantangannya. Sebagaimana yang dijabarkan oleh Bappenas bahwa tengah terjadi penambahan penduduk dunia 240.000 setiap harinya. Sehingga diprediksi pada tahun 2025 akan ada 8 milyar orang yang sama-sama menuntut ketersediaan pangan. Sementara revolusi industri yang akan berakhir ini akan menyisakan residu problematika serius dalam penyiapan pangan bagi manusia diseluruh belahan dunia.
Khusus untuk Indonesia, diproyeksikan penambahan jumlah penduduk menjelang 2025 sebesar 284,5 juta jiwa. Menurut pelitian ilmiah akan terjadi peningkatan kelompok kelas menengah dan perkotaan dipenghujung 2025 akibat kesenjangan yang sangat dalam antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Dimana masyarakat tinggal di perkotaan diprediksi akan meningkat dari 59% menjadi 80%, dan tentunya akan memunculkan ledakan sosial politik yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun sebelumnya.
Sementara dalam spektrum Kawasan nusantara akan mulai terjadi pemerataan kepadatan penduduk yang berarti penguatan geopolitik Kawasan diseluruh wilayah nuswantara. Sejak 1930 penduduk indonesia terkonsentrasi hanya pulau Jawa. Sementara prediksi dipenghujung tahun 2025, penduduk dipulau Jawa akan turun dari 59,1% sampai ke angka 22,7%. Eksodus terbesar pertama adalah dipulau sumatera yang akan naik dari 20,7% menjadi 22,7%. Kedua pulau Kalimantan yang meningkat dari 5,5% menjadi 6,5%.
Ini adalah tantangan paling serius bagi bangsa ini, karena harus diakui bahwa masih ada masalah mendasar yang belum mampu dijawab oleh semua kepala negara kita sampai hari ini. Eksploitasi sumber daya alam yang seharusnya membuat sumber daya manusia kita sangat hebat masih menjadi mimpi disiang bolong. Sementara ekspresi kebebasan publik yang digerakkan secara sistemik oleh kekuatan geopolitik bisa menghadirkan jejak pendapat yang dilegalkan oleh kekuatan diluar negara. Dalam sejarah kerajaan dan kesultanan yang termaktub dalam naskah tutur para tetua adat, ketua INMETA Sofa menjelaskan betapa sumatera dan kalimantan dulunya memang disatukan dalam kesamaan rasa untuk membangun peradaban yang besar.
Sebuah kekuatan historis yang harus selalu kita jaga sampai anak cucu, mengingat kita sebagai anak bangsa adalah benteng dan pagar hidup dari alam dan kamusiaan yang ada didalamnya. Membangun peradaban manusia itu hanya bisa dimulai saat ada kekuatan kolektif seperti gotong royong untuk saling memberikan kemanfaatan untuk kesejahteraan. Dan inilah jawaban dari tantangan krisis pangan dunia yang akan menjadikan bangsa ini sentrum dari solusi penyelesaian masalahnya sebagai negara agraris dan maritim dunia.
Sehingga diperlukan political will untuk menyatukan dua kekuatan itu yang dalam istilah ilmiah dikenal dengan nama agromaritim. Yaitu dengan memadukan semua dimensi ekonomi agromaritim untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Dan membentuk keterpaduan platform pembangunan wilayah, ekonomi, dan tata kelola pertanian dan kemaritiman. Mengacu pada tujuan utama negara, maka harus ada pertumbuhan inklusif bagi ekonomi masyarakat yang dilandasi prinsip keberlanjutan. Dengan menciptakan keseimbangan dengan memperkuat konektivitas, serta tata kelola yang baik dan berkeadilan bagi semua rakyat Indonesia.
Strategi utamanya adalah dengan memanfaatkan teknologi digital untuk produksi, distribusi (akses pangan), efisiensi rantai pasok pangan. Kemudian regenerasi pelaku usaha dibidang agromaritim, (pelaku usaha generasi milenial yang mengubah sistem tradisional ke basis digital). Selanjutnya membangun platform wilayah, tata kelola, pertanian berkelanjutan. Dan terakhir mengembangkan “corporate agriculture” berbasis industry, sembari memperkuat sinergi, “triple helix” antara pemerintah dunia usaha dan akademisi.






